LMC HIMKA Kenalkan Budaya K3 kepada Mahasiswa Baru Kimia melalui Seminar “Chemunity”

Ciputat, 2 September 2026 — Memasuki lingkungan perkuliahan dan laboratorium, mahasiswa Kimia tidak hanya dituntut memahami konsep dan keterampilan praktikum, tetapi juga perlu memiliki kesadaran kuat terhadap keselamatan kerja. Untuk membangun kesadaran tersebut sejak awal, Laboratory Management of Chemistry (LMC) Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMKA) Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Seminar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) LMC 2026 pada Rabu, 2 September 2026.

Bertempat di Teater Lantai 2 Fakultas Sains dan Teknologi, kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa baru Program Studi Kimia 2026 ini mengusung tema “Chemistry Health and Environment Management for Unity and Safety (Chemunity)”. Seminar bertujuan memberikan pemahaman dan keterampilan dasar mengenai penerapan prinsip K3 di laboratorium, mulai dari mengenali potensi bahaya, menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), memahami prosedur keadaan darurat, hingga mencegah terjadinya kecelakaan kerja.

Menanamkan Budaya Keselamatan Sejak di Laboratorium

Rangkaian kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan oleh Camila Cahya Qurani dan Davina Azmiah Shakir, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HIMKA, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an.

Kegiatan kemudian dibuka melalui sambutan dari Ketua Pelaksana Cika Aprianih Komala Dewi, Ketua LMC Habiburrahman Asy-Syaukani, Ketua HIMKA Adji Tufik Naufal, Pembina LMC Dr. Adi Riyadhi, M.Si., Ketua Program Studi Kimia Dr. Yusraini Dian Inayati S., M.Si., serta perwakilan Ketua Pusat Laboratorium Terpadu (PLT), Fitriah, S.Si.

Memasuki acara inti, peserta mendapatkan materi dari Muhammad Zainul Muttaqin, S.K.M. melalui sesi bertajuk “Safety Culture Starts in the Lab, Shapes the Industry”. Selama kurang lebih 60 menit, peserta diajak melihat K3 bukan hanya sebagai seperangkat aturan di laboratorium, tetapi sebagai budaya kerja yang perlu dibangun sejak mahasiswa dan menjadi bekal penting ketika memasuki dunia industri.

Narasumber membahas berbagai SOP dasar yang perlu diterapkan selama berada di laboratorium, antara lain penggunaan APD sesuai jenis pekerjaan, mengenali lokasi eyewash, safety shower, APAR, dan jalur evakuasi, tidak membawa makanan dan minuman ke laboratorium, membaca label dan Safety Data Sheet (SDS) sebelum menggunakan bahan kimia, membuang limbah sesuai kategorinya, serta segera melaporkan tumpahan, kerusakan alat, maupun kondisi yang tidak aman.

APD Bukan Satu-satunya Benteng Keselamatan

Salah satu pembahasan penting dalam seminar adalah Hierarchy of Controls atau hierarki pengendalian risiko. Peserta diperkenalkan pada lima tingkatan pengendalian, yaitu eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan penggunaan APD.

Melalui materi ini, peserta diajak memahami bahwa pengendalian bahaya idealnya dilakukan sedini mungkin pada sumber risiko. APD merupakan lapisan pertahanan terakhir, sehingga keselamatan tidak cukup hanya dengan mengenakan jas laboratorium, sarung tangan, atau kacamata pelindung.

Peserta juga mendapatkan pengenalan mengenai simbol bahaya B3 berdasarkan standar Globally Harmonized System (GHS) serta cara membaca label dan SDS, termasuk piktogram, kata sinyal, H-statement, dan P-statement. Selain itu, dibahas pula berbagai jenis APD yang digunakan di laboratorium, seperti goggles, sarung tangan, jas laboratorium, masker atau respirator, sepatu tertutup, hingga pelindung kepala atau rambut.

Tidak kalah penting, peserta diberikan gambaran mengenai tindakan dasar dalam menghadapi keadaan darurat, mulai dari paparan bahan kimia pada kulit atau mata, tumpahan bahan kimia, kebakaran kecil, hingga prosedur evakuasi dalam kondisi darurat yang lebih besar.

Belajar dari Bhopal: Ketika Keselamatan Diabaikan

Untuk memperlihatkan bagaimana kelalaian terhadap keselamatan dapat berkembang menjadi bencana besar, narasumber mengangkat kasus kecelakaan industri Bhopal tahun 1984.

Studi kasus tersebut digunakan untuk menunjukkan bagaimana kecelakaan dapat melibatkan berbagai kegagalan dalam sistem keselamatan. Kebocoran gas methyl isocyanate (MIC) di Bhopal menjadi contoh bahwa keselamatan tidak hanya bergantung pada satu prosedur atau satu orang, tetapi membutuhkan sistem pengendalian yang berlapis dan konsisten.

Pembahasan kemudian dikaitkan dengan teori Heinrich dan Bird mengenai rangkaian penyebab kecelakaan. Dari sini peserta diajak memahami bahwa insiden besar dapat berawal dari kondisi yang tampak sederhana, termasuk lemahnya pengendalian, kondisi tidak aman, maupun kebiasaan kerja yang kurang tepat.

Pesan yang ditekankan kepada mahasiswa adalah bahwa kemampuan memahami kimia harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengenali dan mengendalikan risiko. Kebiasaan sederhana yang dibangun selama praktikum dapat menjadi modal penting ketika mahasiswa kelak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *